Sejarah Waduk Jatiluhur yang Membendung Aliran Sungai Citarum

Dari Sejarah Hingga Mitos, Ini Hal yang Berkaitan Dengan Waduk Jatiluhur Membendung Sungai Citarum - Waduk Jatiluhur yang membendung Sungai Citarum merupakan salah satu bendungan terbesar yang ada di Indonesia. Waduk ini terletak di Kecamatan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Tepatnya berada 9 kilometer dari pusat Kota Purwakarta. Waduk ini memiliki pemandangan yang indah sehingga banyak wisatawan yang berkunjung kesana.

Waduk ini sebenarnya memiliki nama Waduk Ir. H Juanda, namun karena berada di kecamatan Jatiluhur, waduk ini lebih dikenal dengan nama Waduk Jatiluhur. Waduk ini memiliki luas hingga 8000 hektar. Waduk ini dibangun pada tahun 1957.

Sejarah Waduk Jatiluhur

Bendungan Jatiluhur berada di 100 meter arah tenggara dari Jakarta. Bendungan ini menjadi bendungan terbesar di Indonesia. Waduk Jatiluhur membendung Sungai Citarum di kecamatan Jatiluhur kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat. Waduk ini memiliki area genangan seluas 83 kilometer dengan panjang keliling waduk sekitar 150 kilometer pada kondisi air normal kurang lebih 107 diatas permukaan air laut.


Gagasan untuk membentuk Waduk Jatiluhur membendung Sungai Citarum sebenarnya sudah dimulai pada abad ke-19. Oleh para ahli pengairan sebelumnya telah melakukan survey topografi dan hidrologi bahkan pengukuran debit Sungai Citarum yang akan digunakan untuk keperluan irigasi pada tahun 1888.

Gagasan tersebut dikembangkan oleh profesor Dr.IR.W.J van Blommestein yang berasal dari Belanda. Gagasan tersebut pertama kalinya dipresentasikan pada pertemuan insinyur kerajaan Belanda.

Selanjutnya Prof. Dr. Ir. W.J van Blommestein menyampaikan postensi dari tiga waduk di Sungai Citarum serta daerah aliran sungai. Tulisannya tersebut diberi judul Project Dor The Island of Java dan Madura. Gagasan pembangunan Waduk Jatiluhur ini digunakan untuk kepentingan irigasi dan pembangunan kanal. Prof. Dr.Ir W.J van Blommestein meninggal di Solo pada tanggal 11 agustus 1985.

Kemudian pada tahun 1950-an gagasan untuk membangun Waduk Jatiluhur membendung Sungai Citarum dikaji kembali oleh Ir. Agus Prawiranata yang kala itu bertugas sebagai kepala Jawatan irigasi. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kecukupan beras dalam negeri. Pada saat itu, Indonesia dalam kondisi mengimpor beras. Namun sayangnya, untuk membangun waduk dalam skala yang besar kala itu masih menjadi bahan tertawaan.

Kemudian gagasan ini dibahas kembali dengan Ir. Sudyatmo yang kebetulan memiliki anggaran. Karena terlalu mahal, akhirnya Ir. Setyatmo menugaskan IR.P.C Harjosudirjo sebagai Asisten Kepala Direksi Konstruksi PLN untuk merancang Bendungan Jatiluhur.

Masa pembangunan proyek Jatiluhur ini mengalami sembilan kali pergantian kabinet, yaitu mulai tahun 1957 hingga 1967.menteri-menteri pekerjaan umum dan tenaga pada masa pembangunan Waduk Jatiluhur antara lain adalah:
  1. Ir. Pangeran Mohammad Noor 
  2. Ir. Sardjono Dipokusumo 
  3. Mayjen D. Suprayogi 
  4. Dr. Ir. Sutami. 
Pada saat waduk ini diresmikan oleh Presiden soeharto, proses pembangunan waduk Jatiluhur membendung Sungai Citarum ini belum 100 persen selesai. Masih ada bagian yang belum selesai proses pengerjaannya yaitu pelana ubrug dan pelimpah pembantu yang berada di sebelah kiri bendungan. Hal ini terjadi karena biaya untuk pembangunan waduk tersebut tidak tersedia lagi.

Dengan dibangunnya Waduk Jatiluhur ini diharapkan mampu memberikan pasokan listrik sebesar 150 kV. Namun penyaluran listrik tersebut baru dilakukan pada tahun 1966. Selain dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik, waduk ini juga digunakan untuk irigasi ke lahan pertanian agar menjaga produksi pangan Indonesia.

Mitos Waduk Jatiluhur

Di Indonesia setiap tempat sering kali selalu diwarnai dengan kisah-kisah mitos atau misteri. Tidak terkecuali waduk Jatiluhur membendung Sungai Citarum ini. Beberapa mitos yang dipercaya masyarakat antara lain adalah tentang Eyang Balung Tunggal.

Eyang Balung Tunggal ini memiliki kemampuan di atas air. Konon, suatu ketika banjir telah menghadang Sungai Citarum saat bendungan tersebut belum dibangun. Pada saat itu Eyang sedang menggunakan rakit kemudian diikatkannya ke batang sebuah pohon, namun karena derasnya air sungai Citarum, Eyang ikut terseret banjir hingga ke karawang.

Namun dengan kekuatan yang dimiliki, Eyang berhasil kembali ke Jatiluhur dan melawan banjir tersebut. Kemampuan tersebut dilihat oleh orang-orang yang kala itu berada di pinggiran Sungai Citarum dan sangat takjub.
Itulah mitos yang beredar di kawasan Waduk Citarum tentang kisah Eyang Balung Tunggal. Anda bisa percaya atau tidak, namun oleh masyarakat cerita tersebut dipercaya secara turun menurun.

Nah itulah sekilas tentang sejarah pembangunan waduk Jatiluhur membendung Sungai Citarum serta mitos yang menyertainya. Terlepas dari mitos apapun, Waduk Jatiluhur saat ini banyak membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan airnya.

Share this :

0 Response to "Sejarah Waduk Jatiluhur yang Membendung Aliran Sungai Citarum"

Post a Comment