10 Kebiasaan Orang Betawi Dalam Kehidupan Sehari-hari

Kebiasaan Orang Betawi - Indonesia memiliki banyak sekali suku dan budaya, mulai dari suku jawa, sunda, betawi, dayak dan masih banyak lagi. Di antara beberapa suku tersebut yang mempunyai kehidupan cukup unik adalah Suku Betaw, baik dari segi makanan, pakaian, alat musik, hingga tari.

Suku betawi sendiri merupakan sebuah suku bangsa di negara Indonesia yang penduduknya pada umumnya bertempat tinggal di Ibu Kota Jakarta. Sebagian besar suku atau orang betawi berketurunan penduduk yang sebagaian besar bermukim di Batavia (nama kolonial Jakarta pada masa penjahan Belanda) sejak abad ke-17.

Beberapa ahli berpendapat bahwa Suku Betawi memiliki keturunan yang berasal dari hasil perkawinan antara beberapa etnis pada masa lalu. Bahkan secara biologis, beberapa orang betawi mengaku sebagai orang yang mempunyai keturunan berdarah campuran aneka suku di Indonesia dan bangsa yang dulu pernah didatangkan oleh Belanda ke Batavia (sekarang Jakarta).


Namun sekarang ini, suku betawi lebih terhitung sebagai pendatang baru di Jakarta. Orang Betawi sebagian juga terlahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sebelumnya sudah bertetap tinggal lebih dulu di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Melayu, Arab, Bali, Ambon, Tionghoa, hingga orang India.

Seperti halnya suku lainnya di Indonesia, orang Betawi juga mempunyai ciri atau kebiasaan unik dalam kehidupan sehari-harinya, mulai dari makanan, pakaian, pakaian adat, dan lain sebagainya. Berikut diantaranya

1. Nyambat

Nyambat berarti mengajak orang lain untuk bergotong-royong mengerjakan suatu pekerjaan. Dalam masyarakat Betawi tradisi ini sudah membudaya secara turun menurun. Nyambat dilakukan ketika ingin mengerjakan sesuatu yang berat bersama-sama, seperti seseorang ingin membangun rumah atau membajak sawah. Semua pekerjaan yang dilakukan dengan nyambat ini adalah bersifat sukarela tanpa dibayar ataupun membayar. Pihak yang mengajak nyambat hanya menyediakan makanan dan minuman seadanya, bahkan orang yang bantu nyambat juga menyumbang konsumsi dalam kegiatan tersebut.

2. Nganter

Nganter dalam Bahasa Indonesia disebut mengantarkan, dapat mengantarkan makanan atau sesuatu. Dalam masyarakat Betawi terdapat salah satu tradisi nganter yang biasa terjadi pada bulan puasa. Seseorang yang membuat suatu masakan tertentu akan nganter masakan itu kepada tetangganya atau kerabat terdekat. Orang yang mendapatkan makanan akan mengirim balesan berupa masakan yang dibuatnya. Saling mengantarkan makanan ini seringkali terjadi menjelang hari raya Idul Fitri. Pada saat lebaran atau Idul Fitri, orang yang berkunjung ke rumah orang lain tentu akan membawa gegawan (berupa kue-kue dan sebagainya) nanti dia juga akan menerima balesan dari orang yang dikunjungi.

Tradisi nganter ini juga dilakukan oleh menantu perempuan kepada mertuanya. Maksud dari makanan yang diantar ini untuk menunjukkan kepandaian masak sang menantu kepada mertuanya. Pada musim ikan bandeng juga terdapat tradisi nganter. Menantu laki-laki akan mengantarkan ikan bandeng kepada mertuanya dan anteran ikan bandeng seorang ibu kepada besannya atau sebaliknya.

3. Ngored

Ngored merupakan salah satu tradisi masyarakat Betawi yang berarti membersihkan makam keluarga beberapa hari menjelang bulan Ramadhan. Selain membersihkan makam, tidak lupa dilakukan pembacaan doa bagi keluarga yang sudah meninggal agar arwahnya diberikan keselamatan di dalam kubur. Kegiatan ngored tidak disertai dengan penyebaran bunga seperti kegiatan nyekar pada adat Jawa. Pada saat ini banyak pemakaman Betawi yang ditaburi bunga menjelang bulan Ramadhan, tradisi tersebut bukan tradisi asli orang Betawi melainkan sudah tercampur dengan tradisi orang-orang Jawa.

4. Nyelengin 

Nyelengin atau menabung merupakan kebiasaan masyarakat Betawi pada waktu dulu. Motivasi kebiasaan nyelengin ini adalah untuk dapat pergi haji. Kebiasaan nyelengin ini sudah ditanamkan sejak kecil hingga tua. Uang disimpan di dalam celengan yang terbuat dari bambu yang diberi lubang untuk memasukan uang atau dapat juga celengan celengan yang terbuat dari tanah liat yang berbentuk ayam atau semar. Orang tua biasanya menyimpan uangnya di dalam celengan yang terbuat dari kaleng bekas atau bambu yang menjadi rangka dari dinding rumah. Bambu pada dinding rumah diberi lubang, jika sudah penuh akan pindah ke ruas bambu lain yang ada di dinding tersebut. Cara menabung yang cukup menarik di dalam bambu selama bertahun-tahun biasanya cukup untuk biaya pergi haji.

5. Ngasih Duit

Ngasih duit atau memberikan uang merupakan salah satu tradisi dalam masyarakat Betawi terutama pada hari raya Idul Fitri. Uang yang diberikan merupakan uang yang baru ditukarkan di bank. Uang diberikan kepada anak-anak kecil yang datang berlebaran ke rumah orang-orang tua. Tujuan ngasih duit ini untuk menggembirakan anak-anak tersebut.

Selain pada saat berlebaran, tradisi memberikan uang dilakukan oleh tuan rumah kepada anak-anak tamu yang berkunjung dengan kalimat “bakal beli es di jalan pulang”. Tidak hanya itu, tradisi ngasih duit juga dilakukan oleh seorang calon ibu mertua kepada calon menantunya yang bertemu di suatu tempat. Hal ini hanya untuk menunjukkan rasa kasih seorang ibu kepada calon anaknya. Jika diberikan uang, calon menantu tidak boleh menolaknya.

6. Cara bicaranya ceplas ceplos dengan suara keras

7. Kehidupan sosial masih kental dengan agama

8. Orang tua biasa berkumpul di masjid

9. Anak disekolahin di dua sekolah: pagi di sekolah umum (SD) dan sorenya sekolah agama (Madrasah Ibtidaiyah).

10. Orang tua merasa malu kalau anaknya tidak bisa mengaji. 


Nah, itulah kebiasan orang betawi dalam kehidupan sehari-hari yang masih dilakukan hingga saat ini. Demikian artikel yang dapat saya bagikan mengenai kebiasaan orang betawi dan semoga bermanfaat.

Sumber: Chaer, Abdul. 2017. Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi. Jakarta: Masup Jakarta. Brainly.co.id dan Portalsejarah.id

Share this :

0 Response to "10 Kebiasaan Orang Betawi Dalam Kehidupan Sehari-hari"

Post a Comment