7 Contoh Cerita Pendek Tentang Pendidikan di Indonesia

Cerita Pendek atau biasa disebut dengan cerpen adalah sebuah karya sastra yang berbentuk prosa dan bersifat fiktif (bukan kisah nyata). Cerita pendek pada umumnya menceritakan suatu kisah secara singkat dan ringkas terhadap suatu tokoh yang sedang diceritakan. Dalam cerpen terjadi suatu konflik beserta penyelesaian masalah di bagian akhir, dan terdapat amanat di dalamnya.

Cerita pendek bisa berasal dari mana saja dan bisa dibuat dari berbagai tema, mulai dari tema pengalaman pribadi, persahabatan, dan yang paling banyak ditemui adalah mengenai teman pendidikan. Secara sederhana pendidikan adalah suatu proses pembelajaran yang diberikan oleh seseorang, baik guru, orang tua, atau orang lain yang dapat dimengerti, dan dipahami.

Nah, berikut ini adalah beberapa contoh cerita pendek (cerpen) tentang pendidikan di Indonesia yang bisa Anda kutip dan jadikan referensi untuk tugas Anda.

1. Ayo Berangkat Sekolah


Mentari telah terbit di ufuk timur. Tapi Faisal masih saja tak beranjak dari tempat tidurnya. Burung-burung berkicauan menambah indahnya suasana pagi itu. Mentari semakin meninggi dan terlihat pagi ini sangat cerah.

Faisal adalah murid kelas VII di SMP bina harapan. Ia tampak malas untuk bangun, padahal hari ini adalah hari selasa yang artinya ia harus berangkat ke sekolah. Ibunya lekas membangunkan Faisal karena jam telah menunjukkan jam 6.15. Tapi ia tampak malas untuk bangun dan tak mau untuk sekolah lagi. Ibunya membangunkan Faisal tetapi ia masih saja berbaring di tempat tidur.

“Faisal tidak mau sekolah lagi bu,” jawab Faisal sambil menggeliat.
Ibunya bingung dengan sikap Faisal, padalah ia adalah anak rajin dan pandai di sekolah.
“Kalau Faisal tidak sekolah, besuk mau jadi apa? Apa tidak kasihan dengan ibu?”, tanyaibunya.

“Tapi pendidikan saat ini sudah rusak bu, hanya orang-orang kaya yang mendapat pelayanan baik dari sekolah, sedangkan orang-orang miskin seperti kita sering dianggap bodoh dan nakal. Beasiswa juga hanya diberikan pada anak-anak pandai saja, lantas dimana tugas pendidikan untuk merubah sikap dan perilaku menjadi lebih baik bu? Akibat biaya pendidikan yang mahal sekarang ini, banyak pejabat yang korupsi dan akhirnya akan melahirkankoruptor-koruptor baru.

Jadi apa gunanya Faisal sekolah lagi bu?”, bantah Faisal.“
Jadi Faisal prihatin dengan kondisi pendidikan saat ini? Lantas apa yang ingin Faisal lakukan untuk mengubahnya?”, Tanya ibu.

“Ya Faisalingin mengubah sistem pendidikan dinegara ini bu”.
 “Lantas bagaimana cara Faisal mewujudkan cita-cita tersebut?”, Ibu kembali bertanya.
“Ya dengan sekolah yang baik bu,” jawab Faisal.
“Nah itu Faisal tau. Sekarang lekas mandi dan berangkat ke sekolah ya nak”.

Akhirnya Faisal mau berangkat ke sekolah. Ibunya pun merasa lega anaknya mau berangkat kesekolah lagi. Beberapa menit kemudian Faisalsudah siap berangkat ke sekolah dan berpamitan kepada ibunya.

2. Perjuangan Menuju Lebih baik


Ferenita. Panggil saja aku Fere, seorang gadis berusia 15 tahun. Aku masih menduduki kelas X di bangku SMA NEGERI 1. Hari ini hari Senin, tepatnya adalah hari pengambilan rapor setelah ulangan tengah semester berakhir pada seminggu yang lalu. Aku menunggu saja di rumah, tak menemani ibuku mengambil raporku seorang diri. Tetap saja aku tak bisa tenang, menunggu kepulangan ibuku dan melihat bagaimana hasil nilaiku.

Ah, sudah dapat kutebak, suara motor itu pasti ibuku. Dan tebakanku tak meleset sedikitpun. Jantungku semakin berdegup kencang, tanganku gemetar tatkala mulai membuka rapor sementaraku. Dari seluruh hasilnya lumayan, tak ada yang dibawah 70. Tetapi rata-rata cukup, cukup, cukup. Ibuku bilang, aku mendapat peringkat yang kurang bagus, urutan ke-13. Hal ini mengingatkanku pada saat aku kelas 1 SD, aku mendapat peringkat ke-14. Memalukan. Sungguh memalukan. Biasanya, aku selalu masuk 3 besar. Apa yang terjadi? Tapi aku janji, aku akan memperbaiki nilaiku pada semester 2 nanti.

Tak terasa, libur panjang telah usai. Saatnya untuk kembali memperbaiki diri. Hari demi hari aku terus berusaha menjadi lebih baik. Jika yang biasanya jadwalku sehari-hari adalah: bangun tidur, bantuin ibu, mandi, sarapan, berangkat sekolah, pulang, ganti baju, makan, nonton Tv, jaga toko, bantuin ibu, mandi, setelah maghrib makan malam, nonton Tv lagi, diselipi bermain Hp (googling, facebook, twitter, dll), belajar, lalu tidur.

Kini akan kukurangi kegiatan menonton Tv dan bermain Hp, akan lebih banyak kugunakan waktuku untuk belajar. Jenuh memang. Tapi aku yakin, setelah aku terbiasa, aku tidak akan merasa jenuh. Perlahan, mulai tampak perubahan dalam diriku. Aku senang. Aku tahu hal itu tidak mudah, sebab perubahan itu perlu proses, bukan dalam sekejap mata.

Rupanya waktu semakin cepat berlalu. Buktinya, semester 2 akan segera berakhir. Aku tak takut lagi menghadapi ulangan akhir semester, sebab aku telah mempelajarinya setiap hari. Meskipun dari nama-nama pelajarannya tampak sulit atau bahkan mengerikan bagi sebagian siswa, seperti matematika, fisika, kimia, tapi aku yakin aku pasti bisa mengerjakannya. Aku selalu tersenyum setiap kali melihat soal-soalnya.

Akhirnya, ulangan semester telah usai seminggu yang lalu. Dan hari ini, adalah hari yang sangat kutunggu-tunggu. Hari dimana aku akan mengetahui bagaimana hasil dari nilai-nilaiku. Semoga saja usahaku tidak sia-sia. Aku terus berdoa dengan begitu tegang. Aku takut akan mengecewakan keluargaku lagi. Kudengar, ibuku sudah pulang.

Segera aku berlari dan bertanya padanya. Wajah ibu tampak datar, tak ada satu senyum pun yang ia pancarkan. Jantungku semakin berdegup kencang. Ibu menyerahkan rapor itu padaku. Aku membacanya dengan begitu saksama. Ah, ibu membuatku tegang saja. Nilaiku cukup bagus kok. Tertera pula bahwa aku sebagai peringkat 2. Tidak peringkat 1? Tak masalah. Yang penting aku kembali ke 3 besar. Dan aku percaya, apabila aku bersungguh-sungguh, pasti aku akan memetik hasilnya.

3. Mativasi dari Ayah


Burung berkicauan, di antara hempasan gelombang yang tinggi menerpa pantai. Nama ku fachri aku hanyalah anak seorang nelayan, penghasilan ayahku tidak terlalu tinggi, tapi kedua orangtuaku tetap berusaha menyuruh aku sekolah.

Sejak SD aku didik untuk belajar, jadi tak heran jika aku sering juara kelas, setelah lulus SD, orangtua ku berhasil menyekolahkan aku di MTs alkautsar demi pemahaman gama islam, supaya kelak aku tau tentang agama.

Semangat belajarku meningkat sejak MTs, itu berkat dukungan orangtua ku, dan semenjak MTs ayah mengajarku berdebat menurut akal sehat, dan pada saat itulah aku tertarik di dunia hukum, yaitu menjadi seorang pengacara. Aku tau cita-cita menjadi seorang pengacara sangatlah berat, tapi itulah mimpi besarku yang ingin aku capai.

Setamatnya di MTs aku melanjutkan sekolah menengah atas 13 BATAM (SMA 13 BATAM). Sangat beruntung aku mendapat beasiswa dari pemerintah berkat prestasiku, tidak sia-sia pengorbananku, dan aku sangat bangga bisa meringankan beban kedua orangtua ku.

Semenjak di SMA inilah aku kenal dengan nama motivasi, ayahku seringkali memotivasi diriku yang membuat semangat belajarku makin membara, ada satu motivasi yang sampai sekarang paling ku ingat dari ayahku, ayah ku berkata kepada ku,

“Nak ayah ada satu nasehat untuk mu”
“Apa tu yah…”

“Pemuda yang baik adalah pemuda yang mampu mengatasi masalahnya sendiri, dan mampu membawa kehidupanya lebih baik, lewat kerja kerasnya sendiri, kamu lihat betapa banyak anak orang kaya yang berpoya-poya dengan harta orangtuanya pemuda semacam ini adalah pemuda yang pemalas, dilihat dari materi memang mereka bagus, tapi kalu dilihat dari usahanya sendiri sebenarnya mereka nol, tidak ada apa-apanya”.

Mendengar kata sang ayah hati ku semakin membara penuh semangat, aku bertekat akan mengejar mimpi ku menjadi seorang pengacara, Alhamdulillah aku diteriam kuliah di UIB aku masuk di bidang hukum, lewat ketekunanku berorganisasi dan belajar, akhirnya aku bisa mengejar mimpiku, dan aku berkata kepada ayahku,

“Ayah ini janji ku kepadamu, aku berhasil menjadi pemuda yang ayah katakan, aku berhasil lewat usaha ku sendiri”

4. Semangat dari Teman


Hari ini pembagian rapor di sekolahku. Jujur, aku sangat deg-degan menunggu hasilnya. Semester lalu aku mendapat ranking 3. Sangat bagus bagiku. Bukannya bermaksud sombong, tetapi kelasku memang dipenuhi oleh orang-orang yang pintar dan cerdas. Aku takut, jika rankingku menurun..

Ternyata benar, rankingku menurun. Perasaanku saat ini campur aduk. Sedih karena tidak bisa lebih baik dari sebelumnya, senang karena tidak keluar dari 10 besar, dan menyesal karena terlalu menyia-nyiakan waktuku.

Aku harus berjuang lebih giat..
Hari demi hari berlalu dengan baik. Aku meluangkan waktu setiap harinya untuk belajar. Bukan hanya sekedar untuk meningkatkan ranking, tapi aku tak mau mengecewakan orang-orang di sekitarku.. Mereka terlalu berharga.

Aku masih ingat beberapa ucapan orang-orang di sekitarku saat tahu tentang rankingku.
"Gapapa Na,, mangat terus."

Itu ucapan temanku.
"Yee aku bisa lebih dari kamu :v. Semangat Rena.. pasti bisa bangkit."

Itu kata sahabatku. Sedikit menyebalkan memang.
"Rena, jangan berhenti berprestasi ya. Aku tau kamu bisa lebih baik dari itu."

Ucapan kakak kelasku. Ah, terbaik.
Aku rasa ini bukan akhir dari segalanya. Segala masalah pasti ada jalan keluar, aku percaya itu.

5. Dilarang Mencontek


Oleh Angela Yuni

Mentari bersinar kekuningan. Kicau burung perlahan menghilang bersama mengeringnya embun. Suasana di dalam ruang kelas terasa tenang dan sunyi. Murid-murid asyik menatap lembaran kertas soal di tiap meja mereka. Ya, mereka siap untuk berperang. Tetapi bukan perang seperti zaman sejarah. Melainkan perang fikiran dan konsentrasi demi mendapatkan nilai terbaik sebagai seorang siswa.

Sesekali bunyi pintu berdecit mencoba untuk memecah keheningan. Tetapi mereka asyik tenggelam dalam fikiran mereka masing-masing. Berulang kali Mita menatap jam yang menempel pada dinding dan guru pengawas secara bergantian. Mencari tahu berapa banyak waktu yang tersisa.

“Jangan mencontek ataupun bekerja sama. jika diantara kalian diketahui melakukan kecurangan, maka nilai kalian akan ibu anggap nol. kalian mengerti?” ucap sang guru memperingatkan. Semua terdiam. Tanpa ada yang berani menyahut. Mereka memilih sibuk mengerjakan soal ujian mereka.

Diam-diam Mita memergoki Dera mengambil kertas contekan dari sakunya.
“Jangan mencontek..” bisik Mita menasehati. Tetapi Dera menatap Mita sinis. Tak menghiraukan kata-katanya.

Ujian berikutnya Dera masih melakukan hal yang sama. lagi-lagi dirinya mencontek.
“Dera, kita dilarang mencontek. jika guru tahu kau mencontek, nilaimu nanti akan nol” nasihat Mita lagi. Sayang, Dera begitu keras kepala. Bukannya menurut, Dera malah mengajak Mita berdebat.
“Jika nilaiku kecil, memang kau mau bertanggung jawab?” Ketus Dera.
“Tapi kan kita seharusnya belajar sebelum ujian..” ujar Dera.
“Diam saja. jika nanti aku tertangkap, berarti itu adalah salahmu!”
Mita akhirnya menyerah dan menutup mulutnya rapat. Dia mencoba untuk tak lagi peduli pada Dera.

“Dera!” panggil ibu guru pengawas. Dera mendongak terkejut dengan panggilan sang guru. apa dia ketahuan? pikirnya. “Ibu perhatikan, sedari tadi kau dan Mita terus saja berbicara. kalian bekerja sama?”
“Ti.. tidak bu..” elaknya.
Ibu guru menghampiri mereka. Dera yang saat itu masih menggengam kertas com temannya, ketakutan. Kertas itu tanpa sengaja terjatuh dan ibu guru memungutnya.

“kalian mencontek?” seru sang guru. Mita dan Dera saling pandang.
“Tidak bu. Mita yang mencontek” tuduh Dera akhirnya. Alangkah jahatnya gadis ini. Hanya karena ingin menutupi perbuatannya, Dera berani menfitnah Mita.
“Apa benar kau mencontek Mita?”
“Tidak bu..” jawab Mita jujur. Mita menatap Dera sedih. Dera mencoba membuatnya bersalah.
“Bohong bu.. Aku tadi melihatnya” ucap Dera tanpa ampun.

“Dera yang mencontek bu bukan mita.. Aku tadi melihatnya” seru sebuah suara. Tampak wawan mencoba membelanya.
“Benar, kau yang mencontek Dera?”
“Ti.. tidak bu..”
“Ayo ikut ibu ke kantor”

Dera keluar kelas dengan wajah tertunduk malu. seharusnya dia menuruti nasihat Mita untuk tidak mencontek. Akhirnya Dera mendapatkan balasan akibat perbuatannya sendiri.

6. Perjuangan


Oleh M. Ridwan Panjaitan

Kini kakiku sudah mempunyai tujuan, melangkah menuju sekolah hijau yang berada di Puncak Bukit. Sekarang langkah kakiku sangat ringan karena aku dapat melihat senyuman anak-anak yang memiliki impian yang besar. Senyuman yang mengobati semua rasa sakit yang kurasakan.

Aku masih ingat, semua penolakkan yang diberikan oleh orangtua yang kurang mengerti pentingnya pendidikan dan indahnya menghargai perbedaan. Aku seorang Wanita, yang awalnya tidak dikenal siapapun memiliki nama ‘Andini’. Saat itu, aku sedang mengerjakan skripsi. Aku duduk di bawah pohon rindang yang berada di Puncak Bukit. Tiba-tiba saja, Seorang anak mendekatiku, aku mengira dia ingin melihat apa yang sedang aku tulis. Ternyata aku salah, ia hanya ingin bertanya, mengapa aku mengenakan hijab yang sangat panjang.

Akupun menjawab “Seorang Wanita harus menjaga auratnya agar hidupnya merasa tenang”. Mendengar jawabanku, iapun merasa kebingungan dan pergi meninggalkanku.

Karena penasaran dengan anak itu, aku pun mengikutinya sampai ke rumahnya. Aku melihatnya bekerja membantu orangtuanya, yang mana hal itu tidak pantas untuk anak seusia dia yang masih muda. Aku mendekatinya dan bertanya “Apakah kamu tidak sekolah, Dek?” sambil mengusap kepalanya.

“Aku ingin sekolah, tetapi aku tidak tahu akan sekolah di mana. Orangtuaku tidak pernah menyuruhku untuk sekolah” jawab anak itu.
“Apa kakak boleh tahu siapa namamu?” tanyaku kembali.
“Namaku Sisi” jawabnya.

Aku pun memberanikan diri untuk berbicara dengan orangtuanya. “Permisi… Bu, kenapa Sisi tidak sekolah?, dia itu masih muda” tanyaku kepada Ibunya Sisi.
“Untuk apa Sisi sekolah?, lebih baik Sisi membantu orangtuanya di rumah” jawab Ibunya Sisi dengan tegas. Aku terus menasehati ibunya Sisi agar mau menyekolahkan anaknya, namun beliau tetap menolaknya.

Aku pun mengajak teman-teman Sisi agar mau ikut belajar dengan Sisi di Puncak Bukit. Aku bangga dengan anak-anak disini. Walaupun orangtua mereka tidak setuju, mereka tetap pergi ke Puncak Bukit untuk belajar.

Lalu, suatu hari salah satu orangtua murid dari murid yang kudidik, tidak sengaja melewati tempat kami belajar. Berawal dari satu orangtua hingga akhirnya seluruh orangtua yang ada di desa berkumpul dan membangun sekolah hijau untuk anak-anak.

Waktupun berlalu, aku masih mengajar di tempat ini karena aku telah terpaku oleh senyuman mereka. Tiba-tiba Sisi menghampiriku “Kak Andini… Aku ingin menjadi seperti kakak, seorang Muslimah yang kuat dan dapat membimbing kami semua menjadi seorang anak yang hebat” ujarnya.

Akupun menjawab “Jangan pernah menjadi orang lain, jadilah dirimu sendiri dan percayalah… Allah merencanakan yang terbaik untuk hambanya”. Kami pun berdua tersenyum dan kembali melanjutkan pelajaran.

7. Generasi Kartini


Di sebuah desa kecil, di bawah kaki bukit, hiduplah 1 keluarga yang kurang mampu. Sang ayah bekerja sebagai Petani, sang ibu hanya penjual makanan di pasar yang terletak jauh dari desa. Mereka memiliki 3 anak. Si sulung bernama Bella, dia putus sekolah karena ingin membantu ibu menjaga kedua adiknya. Si tengah bernama Kayla, dia bersekolah jauh dari desa. Dan si bungsu bernama Sania, Sania masih belum sekolah.

Suara ayam membangunkan si sulung. Dia segera mandi lalu shalat subuh. Dia membantu ibu memasak makanan untuk kedua adiknya dan ayah yang akan berdegas pergi ke sawah.

“ibu, ada yang bisa aku bantu?” tanya Bella
“tidak usah sayang… kamu bangunkan adikmu dan menyuruh Kayla mandi saja” balas ibu
“baik bu” jawab Bella singkat

Bella berlari ke kamar Kayla, dia membangunkan Kayla.
“kay! Bangun! Ayo dong, sekarang hari pertama kamu sekolah” teriak Bella mengoyang tubuh Kayla
“uhmmm… apa sih kak? Masih jam segini kali” bantah Kayla
“Kayla, jarak rumah ke sekolah itu jauh, sudahlah nanti kakak antar kamu mengunakan sepeda saja. Cepat mandi!” suruh Bella

Setelah membangunkan Kayla. Bella membantu ibu menyiapkan sarapan dan bekal untuk Kayla dan ayah. Setelah sarapan pagi, ayah dan ibu berangkat bekerja, ayah mengantar ibu ke pasar mengunakan motor, lalu ayah berdegas ke ladang. bella pun segera mengambil sepeda dan membonceng adiknya ke sekolah, di desa seberang. Di perjalanan, Bella bercerita tentang R.A Kartini, pahlawan wanita yang memperjuangkan nasib wanita, hingga dapat bersekolah seperti adiknya sekarang ini.

“Kay! Harusnya kamu bersyukur bisa sekolah dengan mudah. Biaya ditangung pemerintah, tiada perang perang. Jadi… kamu harus rajin ya di sekolah” ucap Bella
“memangnya? Saat zaman peperangan tidak ada sekolah kak?” tanya Kayla
“bukannya tidak ada, tapi wanita seperti kita tidak diperbolehkan bersekolah. Bersekolah yah Cuma sampai kelas 6 SD, setelah kelas 6 para wanita dipingit. Akhirnya Kartini bertanya kepada ayahnya, namun sang ayah hanya diam. Dan Kartini pun membuat sekolah gratis untung rakyat Indonesia. Kartini pun sering membuat buku buku novel yang memotivitas rakyat Indonesia” cerita Bella panjang lebar

“lalu apa hubungannya sama Kayla?” tanya Kayla
“harusnya kamu bersyukur bisa bersekolah. Kartini bersekolah SD saja membayar dengan biaya mahal, kamu sekolah sekarang kan ditangung pemerintah. Sedangkan kakak yang ingin bersekolah malah tidak bisa. Ya sudah, sudah sampai di sekolahmu, belajar yang rajin ya Kay! Nanti kakak jemput jam 12 siang ya!” teriak Bella melambaikan tangan ke adiknya
“byee kak!” teriak Kayla balik

Setelah sampai di rumah, Bella mengelar tikar di depan rumahnya. Bella pun mengajar anak anak yang tak mampu bersekolah, dia membuat sekolah kecil kecilan, sedangkan Sania dititipkan ke tetangga Bella

“kak Bella, mari belajar. Sudah tak sabar nih” teriak salah satu anak laki laki
“iya iya, semua duduk dengan tertib ya! Kakak akan mengajari kalian menghitung” teriak Bella menenangkan anak anak yang berlari sana sini
“asikkk!!!” teriak semua anak

“Aldo, coba kamu hitung. Misalnya, kak Bella memberi kamu 20 permen, lalu adikmu memintanya 5, lalu kakak memberimu 10 permen lagi, jadinya?” tanya Bella kepada Aldo
“saya menjawabnya… terima kasih kak Bella, hehehe” canda Aldo. Semua murid pun tertawa, Bella hanya bisa tersenyum ke Aldo, “okey okey, tadi kan ada 20 – 5 + 10 jadinya 25 kak Bel” jawab Aldo dengan tersenyum malu. Bella bangga akan anak anak itu. Mereka yang kurang mampu saja mau belajar, sedangkan adiknya sendiri yang cukup mampu malas malasan sekolah. Sekolah ini dipulangkan pukul 10.

Jam menunjukan pukul 11.00. Saatnya Bella menjemput Kayla dari sekolahnya, dan mengantarkan bekal untuk kedua orangtuanya yang bekerja. Bella pun mengambil 2 rantang makanan yang telah disiapkannya tadi. Bella mengambil sepedanya dan segera mengayuh sepedanya ke ladang ayah, lalu ke pasar ibu, setelah itu, barulah Bella menjemput adiknya.

“kak Bella, sekolahku tadi asik lo kak! Aku perkenalan ke depan, lalu aku diceritain kehidupan Kartini dimasa lalu. Ceritanya mirip banget sama cerita kakak! Kak, aku meminjam buku ‘Kehidupan Kartini’ di perpustakaan sekolah, aku janji, aku bakal rajin sekolah” kata Kayla bersemangat. Bella hanya menangapi dengan senyuman manisnya.

Jadi… Kartini adalah pahlawan yang memperjuangkan pendidikan wanita. Dahulu memang Belanda melarang wanita bersekolah. Setelah melalui pendidikan SD, Kartini dipingit, dia hanya terdiam di kamar sambil membaca buku pendidikan. Akhirnya dia membuat sekolah kecil kecilan, untuk membantu Rakyat indonesia menjadi maju dan pandai.

Jasa Kartini masih dikenang hingga sekarang, novel novelnya pun masih ada. Dia juga sering dijadikan nama jalan, dan… setiap hari kelahirannya, dirayakan sebagai hari Kartini.

Nah, itulah 7 contoh cerpen yang dapat saya bagikan untuk Anda mengenai tema pendidikan di Indonesia. Contoh cerpen tersebut saya kutip dari situs cerpenmu.com dan juga brainly yang sudah terverifikasi layak untuk dijadikan cerpen. Sekian dan semoga bermanfaat.

Share this :

0 Response to "7 Contoh Cerita Pendek Tentang Pendidikan di Indonesia"

Post a Comment